Butonpos.com, Koholimombono — Setiap hari sekitar pukul 3 sore, suasana khas mulai terlihat di salah satu sudut terbuka Desa Koholimombono. Warga secara perlahan menata piring-piring plastik berwarna-warni di atas meja kayu seadanya, menyusun hasil laut segar seperti ikan kecil, ikan pipih, hingga kepiting bakau dan rajungan. Meskipun sekilas mirip pasar tradisional, tempat ini bukan pasar resmi—melainkan bentuk aktivitas jual beli warga yang tumbuh dari kebiasaan dan kebutuhan.
Lapak ini menjadi titik penting dalam sirkulasi ekonomi desa. Di sinilah hasil tangkapan nelayan langsung bertemu konsumen tanpa melalui perantara. Kesegaran ikan menandakan bahwa hasil laut ini baru saja didaratkan—ditawarkan langsung dari laut ke tangan pembeli.
Aktivitas jual beli berjalan sederhana namun teratur. Seorang pembeli tampak memegang kantong plastik berisi ikan, sementara yang lain cermat memilih dari piring. Tidak tampak keramaian yang berlebihan, namun denyut ekonomi terasa jelas. Tempat ini telah menjadi bagian dari kehidupan harian warga pesisir.

Namun, kondisi fasilitas yang digunakan masih sangat terbatas. Meja kayu yang digunakan untuk menata hasil laut sudah rusak, lapuk, dan tidak rata. Ketidaklayakan fasilitas ini menjadi hal penting yang seharusnya mendapat perhatian. Minimnya pelindung cuaca dan fasilitas dasar seperti sanitasi juga memperkuat urgensi akan perbaikan.
Warga berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah dalam bentuk penyediaan meja yang lebih layak, pelindung dari panas dan hujan, serta fasilitas pendukung lainnya. Hal-hal seperti ini, meski tampak sederhana, merupakan bagian penting dari penggerak ekonomi lokal dan tidak boleh luput dari perhatian pemerintah daerah.
Lapak penjualan ini bukan sekadar tempat berdagang, tetapi cermin kemandirian dan solidaritas warga. Dalam suasana yang sederhana, tergambar semangat bertahan hidup dari masyarakat pesisir yang menggantungkan rezekinya pada laut.
Apa yang terjadi di tepi jalan Desa Koholimombono setiap sore bukan sekadar jual beli, melainkan representasi nyata dari ekonomi rakyat yang bergerak dengan segala keterbatasannya—dan sangat layak untuk didukung serta dijadikan prioritas dalam pembangunan berbasis masyarakat.










