LintasButon.com – Langit pagi di Dusun Wapomaru, Desa Manuru, Kecamatan Siotapina, baru saja cerah ketika deru mesin molen dan suara cetok mulai terdengar. Di sudut lahan yang kini berubah menjadi lokasi pembangunan Posyandu, terlihat aktivitas yang tak biasa—tak hanya para pekerja bangunan yang sibuk, tapi juga beberapa ibu-ibu desa yang turut ambil bagian.
Pembangunan Posyandu tersebut kini telah mencapai sekitar 50 persen. Pondasi sudah mengakar, dinding mulai menjulang, dan semangat gotong royong makin terasa.
Kepala Dusun Wapomaru menyebut pembangunan ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di dusun yang letaknya cukup jauh dari pusat layanan.
“Selama ini kami harus ke desa tetangga kalau anak-anak sakit atau ibu mau timbang bayi. Jadi begitu proyek ini dimulai, warga langsung bergerak bantu semampunya,” ujarnya.
Yang paling mencuri perhatian adalah keterlibatan para ibu dalam program Harian Orang Kerja (HOK). Dengan pakaian sederhana dan topi seadanya untuk menahan panas, mereka ikut memanggul pasir, menyiapkan air, bahkan mengangkat batako. Bukan karena disuruh, tapi karena merasa memiliki.

“Biar tangan kami kasar, tapi hati kami lembut untuk pembangunan,” ucap Ibu Tina sambil tertawa. Ia salah satu ibu yang setiap hari datang lebih awal ke lokasi pembangunan.
Ada pula yang sambil membawa anak kecil, tetap semangat ikut serta. Katanya, “Kami tidak ingin hanya melihat. Kami ingin ikut menanam batu demi masa depan anak-anak kami.”
Suasana kerja terasa hidup—kadang diselingi canda, kadang saling menyemangati. Pihak pelaksana proyek mengaku salut dengan semangat warga, terutama para ibu, yang tak hanya mendukung secara moril tapi juga ikut bekerja langsung di lapangan.
“Ini bukan cuma soal bangun gedung. Ini tentang kebersamaan, tentang harapan masyarakat,” ujar salah satu mandor proyek.
Jika tidak ada kendala teknis atau cuaca ekstrem, pembangunan Posyandu Wapomaru diperkirakan rampung dalam beberapa pekan ke depan. Pemerintah desa berharap, fasilitas ini akan menjadi pusat layanan kesehatan ibu dan balita yang mudah dijangkau dan nyaman digunakan warga.
Kini, setiap bata yang tertumpuk bukan hanya penanda bangunan yang sedang naik, tapi juga simbol dari cinta masyarakat terhadap tanah kelahirannya.








