LintasButon.com – Di balik setiap pembangunan yang dicanangkan pemerintah daerah, selalu ada tangan-tangan pekerja media yang setia merekam, menulis, dan menyebarkan cerita kepada publik. Namun, di tengah semangat pembangunan yang terus bergulir, nasib para jurnalis lokal di Kabupaten Buton masih menjadi catatan yang perlu mendapat perhatian lebih serius.
Pekerjaan jurnalistik bukan sekadar menulis berita, tetapi menjaga arus informasi agar tetap jernih dan berimbang. Di Kabupaten Buton, jurnalis lokal terus berjuang menjalankan tugasnya meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan—mulai dari minimnya dukungan fasilitas hingga belum adanya kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan mereka.
Padahal, melalui tulisan dan liputan mereka, potensi Buton diperkenalkan hingga ke luar daerah. Mereka menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, antara kebijakan dan kenyataan di lapangan. Sayangnya, dedikasi itu kerap tidak sebanding dengan penghargaan yang diterima.
Pemerintah Daerah Kabupaten Buton diharapkan dapat memberikan ruang dan perhatian lebih kepada insan pers lokal. Dukungan terhadap jurnalis bukan hanya bentuk kepedulian, tetapi juga investasi sosial untuk menjaga keterbukaan informasi publik dan citra positif daerah.
Sejumlah jurnalis lokal pun menyampaikan harapan sederhana agar pemerintah tidak melupakan peran mereka dalam roda pembangunan. Dalam renungan yang disampaikan, tersirat pesan penuh makna:
“Kami tidak meminta banyak. Hanya ingin dilihat sebagai bagian dari pembangunan.
Karena tanpa kami, kisah kemajuan Buton mungkin tak akan pernah sampai ke telinga dunia.”
Kepedulian terhadap jurnalis tidak semata soal bantuan materi atau fasilitas, melainkan pengakuan terhadap perjuangan mereka sebagai garda depan penyampai informasi. Sebab tanpa pers, pembangunan kehilangan suara; dan tanpa berita, kemajuan daerah kehilangan makna.
Sudah saatnya suara jurnalis lokal di Buton tidak hanya terdengar saat menulis, tetapi juga didengar saat mereka berbicara tentang nasib mereka sendiri.







