LintasButon.com — Masyarakat Kondowa Dongkala kembali menggelar ritual adat Kabaria sebagai tahapan penting dalam menyambut pesta adat tahunan Kondowa. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu, 6 Desember 2025, dan menjadi penanda dimulainya rangkaian adat sebelum pesta utama digelar.
Ritual Kabaria merupakan tradisi adat yang digelar satu kali dalam setahun. Kegiatan ini diikuti ribuan warga dari beberapa desa di Kecamatan Pasarwajo dan Kecamatan Wabula. Sejak pagi hari, bahkan ada warga yang datang usai salat Subuh, terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak, para pemuda, hingga anak-anak sekolah yang turut hadir memeriahkan kegiatan karena pelaksanaannya bertepatan pada hari Minggu.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat terlebih dahulu menerapkan sistem ombo, yakni penutupan sementara pada beberapa area perairan laut. Sistem adat ini diterapkan sebelum hasil laut dimanfaatkan kembali, sebagai bentuk menjaga keseimbangan alam dan keberlanjutan sumber daya laut.
Terkait hasil tangkapan, masyarakat menjalankan aturan adat yang telah disepakati bersama. Hasil tangkapan ikan yang masuk dalam ketentuan ritual dikumpulkan dan dibawa ke Galampa Kondowa, kemudian diserahkan kepada para tokoh masyarakat dan tokoh adat. Sementara itu, hasil tangkapan yang diperoleh secara mandiri oleh masing-masing warga menjadi bagian mereka dan tidak dikumpulkan, sesuai adat yang berlaku.

Sementara itu, Kepala Desa Kondowa, Ruslan, yang didampingi oleh Kepala Desa Dongkala, La Hasani, menyampaikan bahwa ritual Kabaria merupakan bentuk ketaatan masyarakat terhadap nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, Kabaria bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, melainkan simbol kebersamaan dan wujud tanggung jawab masyarakat dalam menjaga laut.
“Kabaria ini adalah ritual tahunan masyarakat Kondowa Dongkala. Sebelum laut kembali dimanfaatkan, beberapa wilayah perairan kami tutup sementara dengan sistem ombo. Ini bagian dari aturan adat agar alam tetap terjaga dan lestari,” ujar Ruslan.
Sementara itu, mantan Kepala Desa Kondowa, Husni Ali, menegaskan bahwa Kabaria harus terus dipertahankan sebagai warisan adat yang menyatukan masyarakat lintas generasi. Ia menilai, kehadiran generasi muda hingga anak-anak sekolah dalam kegiatan ini menjadi tanda bahwa adat masih hidup dan diterima oleh semua kalangan.
Ritual Kabaria juga berlandaskan falsafah hidup masyarakat Kondowa, Pi anano koicu, Pi anano lompa, yang mengandung makna persatuan, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif. Nilai ini sejalan dengan Pancasila, khususnya sila ketiga Persatuan Indonesia, yang tercermin dalam praktik kehidupan sosial masyarakat Kondowa Dongkala.

Kegiatan adat tersebut turut dihadiri Wakil Kepala Kepolisian Resor (Waka Polres) Buton, Kompol Aslim, S.H., M.H., sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib.
Ritual Kabaria kembali menegaskan bahwa adat bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pedoman hidup yang terus dijaga. Dari laut menuju Galampa, dari kebersamaan menuju persatuan, masyarakat Kondowa Dongkala menata langkah menyongsong pesta adat tahunan dengan semangat menjaga alam dan merawat pangka budaya agar tetap hidup lintas generasi.








