LintasButon.com — Pesta adat tahunan Kondowa–Dongkala yang dilaksanakan pada 8 Desember 2025 kembali menjadi wujud nyata komitmen masyarakat adat dalam mempertahankan serta melestarikan budaya Kadie Kondowa. Kegiatan ini mengusung nilai luhur Pi Anano Lompa Pi Anano Koicu, sebuah falsafah adat yang menekankan persatuan, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif sebagai fondasi membangun masa depan masyarakat.
Pesta adat tahunan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial budaya, namun juga menjadi ruang perjumpaan nilai-nilai kearifan lokal dengan generasi masa kini. Berbagai rangkaian prosesi adat, ritual kebersamaan, hingga musyawarah adat di baruga menjadi bagian penting dalam menjaga agar adat tetap hidup dan relevan di tengah arus perubahan zaman.
Yang menarik, pesta adat kali ini turut dihadiri oleh Bupati Buton Alvin Akawijaya Putra, S.H., Dandim 1413 Buton Letkol Inf Arif Nofianto, S.E., serta Kapolres Buton AKBP Ali Rais Ndraha, S.H., S.I.K., M.M., Tr. Kehadiran para pimpinan daerah ini semakin menyemarakkan suasana pesta adat ketika ketiganya tampak larut bersama masyarakat dengan ikut menarikan Tari Mangaru, tarian khas Buton yang sarat makna keberanian, kehormatan, dan persatuan.
Tarian Mangaru yang dibawakan di tengah pesta adat tersebut menjadi simbol kedekatan antara pemerintah, aparat, dan masyarakat adat. Iringan musik tradisional serta sorak masyarakat menambah semarak suasana, sekaligus memperlihatkan bahwa adat budaya masih menjadi ruang pemersatu lintas generasi dan jabatan.
Turut hadir dalam pesta adat tahunan masyarakat kondowa Dongkala La Ode Muhammad Samsul Qamar Sultan Buton ke-41 sekaligus pelantikan La Ode Harlin sebagai Lakina kondowa
Sejarah Singkat Kadie Kondowa
Secara historis, Kadie Kondowa diperkirakan mulai terbentuk pada akhir abad ke-15. Pada masa itu, secara berturut-turut datang ke tanah Kondowa empat tokoh penting, yakni La Datumboyo atau Sridatu, La Kajima yang lebih dikenal sebagai Nakoda Kondowa, Wa Ode Wau yang berasal dari Karaton Buton, serta La Saunte yang berasal dari Kumbewaha.
Atas kepemimpinan keempat tokoh tersebut, terbentuklah Bakata Kondowa sebagai cikal bakal pemerintahan adat. Dari sinilah kemudian dibangun Kota Kondowa yang letaknya kurang lebih beberapa kilometer dari Kampung Dongkala. Kota tersebut diperkirakan memiliki luas sekitar 300 meter dan dilengkapi dengan tiga pintu gerbang sebagai sistem pertahanan adat.
Setelah Kota Kondowa selesai dibangun, atas gagasan para pemimpin adat, di dalam kawasan tersebut didirikan satu buah baruga sebagai pusat musyawarah adat serta satu buah masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan. Perkembangan ini berlanjut hingga memasuki abad ke-16, seiring dengan dinamika pemerintahan Kesultanan Buton.
Pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-IV, Dayanu Ikhsanuddin, Kesultanan Buton secara resmi menyusun dan menetapkan Martabat Tujuh, yang membagi wilayah kekuasaan Kesultanan Buton ke dalam 72 Kadie. Dalam ketetapan tersebut, Kondowa ditetapkan sebagai salah satu Kadie resmi dari 72 Kadie Kesultanan Buton.

Pesta Adat sebagai Warisan Masa Depan
Dengan latar sejarah panjang tersebut, pelaksanaan pesta adat tahunan Kondowa–Dongkala menjadi pengingat bahwa adat bukan sekadar narasi masa lalu, melainkan nilai hidup yang terus dijaga. Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal dan mencintai identitas Kadir Kondowa di tengah perkembangan zaman.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering lupa menoleh ke belakang, tanah Kondowa dan Dongkala memilih berjalan dengan ritme adat. Baruga tidak mengajarkan tergesa-gesa; ia mengajarkan menimbang kata sebelum bicara dan mengikat keputusan dengan nurani leluhur.
Pi Anano Lompa Pi Anano Koicu menjadi sindiran halus bagi zaman yang kerap melangkah tanpa berpamitan pada adat. Di tanah ini, siapa yang berjalan tanpa adat mungkin tiba lebih dulu, namun mudah kehilangan arah. Sebaliknya, mereka yang berjalan bersama adat akan tahu ke mana harus kembali.
Selama baruga masih dijadikan tempat bertanya, selama adat masih dipanggil untuk bermusyawarah, dan selama anak cucu masih diajak duduk mendengar kisah leluhur, Kondowa dan Dongkala tidak akan kehilangan jati diri. Ia tidak sedang menua—ia sedang menjaga cara hidupnya agar tetap beradab di masa depan.








