LintasButon.com — Di balik geliat aktivitas dan megahnya gedung-gedung pemerintahan, ada pemandangan yang menyentak keprihatinan: tumpukan sampah yang berserakan di sekitar tanjakan Takawa, tepat di wilayah yang menjadi pusat perkantoran Pemerintah Kabupaten Buton.
Takawa bukan sekadar titik lalu lintas biasa—ini adalah jantung administrasi pemerintahan, tempat berbagai urusan publik dijalankan setiap harinya. Ironisnya, di tengah pusat pelayanan masyarakat itu, justru tampak ketidakteraturan yang mencolok dari aspek kebersihan lingkungan.

Secara pribadi, saya merasa prihatin melihat kondisi ini. Lokasi yang seharusnya menjadi contoh kerapian dan tanggung jawab justru mencerminkan sebaliknya. Sampah yang menumpuk dan tidak terurus seakan mengirim pesan bahwa masalah kebersihan belum menjadi prioritas, bahkan di kawasan paling strategis.
Lebih dari sekadar gangguan visual, tumpukan sampah itu juga mengancam kesehatan masyarakat, mencemari lingkungan, dan menurunkan citra wilayah. Sebagai warga yang taat pajak, muncul pertanyaan: ke mana arah pengelolaan dana publik, termasuk dari Pajak Penghasilan (PPh), jika urusan mendasar seperti kebersihan pun terabaikan?
Dari keterangan yang dihimpun pada 2 Agustus 2025, seorang warga berinisial KH (30 tahun), warga masyarakat Kondowa, menyampaikan bahwa ia sangat prihatin dengan kondisi ini dan menegaskan bahwa persoalan sampah di lokasi tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa ada penanganan yang memadai.

“Hampir setiap hari saya melewati tanjakan ini. Sampah tetap menumpuk, tidak ada tindakan tegas. Padahal ini pusat kantor pemerintahan,” ujar KH.
Kami berharap Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buton dapat menaruh perhatian lebih terhadap kondisi ini. Penanganan yang cepat, terukur, dan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar kawasan Takawa bisa mencerminkan wajah pelayanan publik yang bersih, tertata, dan berwibawa.
Dan satu hal yang perlu direnungkan bersama: jangan dulu bicara soal slogan “Buton Bersinar” kalau urusan sampah di pusat pemerintahan saja belum bisa diselesaikan. Slogan tidak cukup menjadi hiasan tanpa bukti nyata di lapangan.
Kami percaya, perubahan bisa dimulai dari hal sederhana—dari keseriusan menangani sampah, hingga menjaga martabat pusat pemerintahan. Karena lingkungan yang bersih bukan hanya tugas petugas, tapi cermin kesungguhan kita membangun daerah ini.








