Lintasbuton.com ,Baubau – Suasana hangat terasa sejak pagi di Hotel Galaxi, MM Kota Baubau, Minggu 7 September 2025. Ratusan kader dan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari seluruh Kepulauan Buton (Kepton) berkumpul untuk mengikuti Musyawarah Daerah (Musda) yang dimulai tepat pukul 10:00 WITA.
Acara yang dinanti-nanti ini dibuka oleh Wakil Wali Kota Baubau, Hamsina Bolu. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas konsistensi PKS yang selama ini aktif menjalin kedekatan dengan masyarakat. “Keberadaan partai politik sangat penting, bukan hanya soal perebutan kursi, tetapi bagaimana bisa menjadi jembatan aspirasi rakyat. PKS punya tanggung jawab moral itu,” ucapnya yang disambut tepuk tangan hangat peserta.
Hadir pula Wakil Bupati Buton, Syarif Syaafa, yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas wilayah dalam membangun kepulauan. “Kita di Buton dan se-Kepton ini punya cita-cita yang sama, ingin melihat daerah berkembang lebih maju. Partai politik, termasuk PKS, tentu punya peran penting mendorong terwujudnya cita-cita itu,” ungkapnya.
Kehadiran unsur Forkopimda Kota Baubau juga menambah nuansa kebersamaan. Salah seorang perwakilan menyebut bahwa keberadaan partai politik harus menjadi mitra strategis pemerintah dan aparat, bukan hanya dalam dinamika politik, tapi juga dalam menjaga kondusivitas daerah.
Selain konsolidasi, Musda kali ini juga menjadi saksi pelantikan kader-kader baru PKS. Wajah-wajah muda dengan semangat segar tampak antusias ketika prosesi pengukuhan dilakukan. Beberapa bahkan terlihat menitikkan air mata, merasa bangga sekaligus terharu karena resmi menjadi bagian dari barisan perjuangan partai.
Rangkaian acara tidak hanya formalitas, tapi juga ruang diskusi yang hidup. Para peserta mengangkat berbagai isu penting: ekonomi kerakyatan yang belum sepenuhnya merata di daerah kepulauan, tantangan pendidikan, hingga peran pemuda dalam membangun masa depan Kepton. Setiap gagasan mengalir seperti obrolan keluarga besar yang ingin merajut masa depan bersama.
Musda PKS se-Kepton kali ini bukan hanya tentang laporan pertanggungjawaban atau strategi politik lima tahun ke depan. Lebih dari itu, ada rasa kebersamaan yang tumbuh: sebuah keyakinan bahwa politik bisa dijalankan dengan semangat persaudaraan, untuk menghadirkan harapan baru bagi masyarakat kepulauan.
Namun di balik semangat itu, terselip juga harapan agar pemerintah daerah, baik di tingkat kota, kabupaten, maupun provinsi, benar-benar mendengar suara rakyat kepulauan. Sebab hingga kini, masih banyak desa-desa di Kepton yang merindukan akses infrastruktur layak, pelayanan publik yang merata, dan perhatian serius dari para pengambil kebijakan. Musda ini menjadi pengingat bahwa politik bukan hanya tentang janji, tapi juga soal keberanian menghadirkan keadilan bagi mereka yang kerap terpinggirkan.








