LintasButon.com,Koholimombono – Suasana penuh khidmat menyelimuti Desa Koholimombono pada Minggu malam, 7 September 2025, pukul 19:00 WITA. Bertempat di samping Masjid Asobar, warga berkumpul untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan kali ini mengangkat tema “Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW Sebagai Landasan Pembentukan Pribadi yang Berkualitas”.
Acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan oleh Miranti, sementara M. Rehan bertugas sebagai sari tilawah. Lantunan ayat suci tersebut menambah kekhusyukan suasana dan membuka acara dengan penuh keberkahan.
Selanjutnya, Ketua Panitia Penyelenggara, Mariatiy, S.Pd., menyampaikan laporan sekaligus apresiasi dan ucapan terima kasih kepada semua pihak. Ia menegaskan bahwa terlaksananya acara ini tidak lepas dari dukungan pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta seluruh warga yang telah memberikan tenaga, pikiran, dan bantuan lainnya. Mariatiy juga menjelaskan bahwa pendanaan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H/2025 M ini bersumber dari APBDes Desa Koholimombono tahun anggaran 2025.
“Semoga momentum Maulid Nabi ini menjadi cerminan bagi kita semua untuk lebih meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya menutup laporan.
Kepala Desa Koholimombono, La Amiri, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah bersama-sama menyukseskan kegiatan Maulid Nabi. “Semoga dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini kita bisa menjadikannya sebagai pelajaran berharga dalam kehidupan bermasyarakat, dengan mencontohi karakter Baginda Nabi Muhammad SAW,” ungkapnya.
Acara kemudian diisi dengan tausiah yang disampaikan oleh Ustaz Bakri Subuh, S.Pd.I. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan jamaah agar selalu meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Dengan gaya penyampaian yang hangat, ia sesekali menyelipkan candaan ringan yang membuat jamaah tersenyum. Lebih jauh, ia menekankan bahwa peringatan Maulid bukan sekadar tradisi, melainkan wujud kecintaan umat Islam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Setelah tausiah, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh Imam Desa Koholimombono. Doa dipanjatkan dengan penuh haru dan khusyuk, memohon keberkahan hidup serta keselamatan dunia dan akhirat bagi seluruh warga.
Sebagai penutup, hadirin dihibur dengan berbagai penampilan seni Islami. Persembahan kasidah dari ibu-ibu Majelis Ta’lim Desa Koholimombono bersama siswi SMP setempat mengalunkan puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Selain itu, tampil pula grup pemudi Desa Koholimombono yang membawakan tari bernuansa Islami, menambah semarak suasana dan memberikan sentuhan indah pada acara peringatan Maulid Nabi tersebut.
Peringatan Maulid Nabi di Desa Koholimombono ini tidak hanya menambah semangat ukhuwah, tetapi juga memperdalam makna kecintaan masyarakat kepada Rasulullah SAW, sekaligus menjadi momentum menanamkan nilai akhlak mulia kepada generasi penerus.
Namun demikian, peringatan ini hendaknya tidak berhenti sebatas kegiatan keagamaan dan lantunan shalawat semata. Jangan sampai setelah lampu acara dipadamkan, hati kembali gelap tanpa cahaya teladan Nabi. Betapa sering lidah kita ringan memuji Rasulullah, tetapi langkah kaki masih berat mengikuti akhlaknya. Bukankah Rasulullah telah mengajarkan kejujuran, sementara sebagian umatnya masih gemar berbohong? Bukankah beliau menanamkan kesederhanaan, namun banyak dari kita yang larut dalam bermegah-megahan?
Maulid seharusnya menjadi cermin, bukan hanya panggung perayaan. Bila umat benar-benar mencintai Nabi, maka cinta itu mestinya tampak dalam akhlak sehari-hari—dari cara berbicara, bekerja, hingga bermasyarakat. Karena cinta sejati kepada Rasulullah bukanlah sekadar kata-kata, melainkan keteladanan nyata dalam kehidupan.
Dan di atas segalanya, umat Islam mesti sadar bahwa Nabi Muhammad SAW bukan sekadar tokoh sejarah yang dikenang tiap tahun, melainkan suri teladan sepanjang masa. Beliaulah yang menunjukkan jalan lurus dengan akhlak mulia. Bila umat benar-benar menjadikannya panutan, maka wajah kehidupan akan bercahaya dengan keadilan, kejujuran, kasih sayang, dan kedamaian. Tetapi bila suri tauladan itu hanya tinggal hiasan bibir, maka peringatan Maulid hanyalah seremonial tanpa makna yang hakiki.








