Sumber:Indrato sumantoro
Butonpos.com – Aspal Buton bukan sekadar kekayaan alam biasa. Ia adalah harta karun strategis nasional—dengan cadangan bitumen lebih dari 650 juta ton, menjadikannya sebagai deposit aspal alam terbesar di dunia. Potensi ini seharusnya cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan nasional dan bahkan ekspor. Tapi sayangnya, harta karun ini lebih banyak dikubur daripada dimanfaatkan—dan yang mengubur, ironisnya, adalah tangan-tangan kita sendiri.
Sejak pertama kali ditemukan dan dikeruk oleh Belanda pada tahun 1924, aspal Buton justru menjadi simbol ketidakadilan atas sumber daya negeri sendiri. Dulu hasilnya dibawa ke negeri penjajah, hari ini kita malah lebih memilih impor aspal minyak dari luar negeri. Sudah lebih dari 80 tahun merdeka, tapi aspal Buton belum merdeka di tanah sendiri.
Yang lebih menyedihkan, masyarakat Buton sendiri seolah tak mengenali lagi nilai emas hitam ini. Anak-anak sekolah tidak tahu sejarah kejayaannya. Generasi muda tumbuh tanpa warisan kebanggaan akan tanahnya sendiri. Aspal Buton berubah jadi sebongkah tanah hitam yang tak dianggap—bukan karena tidak berharga, tapi karena kesadaran kolektif kita telah terkikis.
Teknologi Sudah Siap, Tapi Buton Tidak Bergerak
Dengan kemajuan teknologi saat ini, bitumen berkadar 15–30% bisa diekstraksi dan dimurnikan secara ekonomis dan ramah lingkungan. Negara lain sudah memanfaatkan teknologi ini. Tapi Buton? Masih menunggu, masih pasrah, masih diam. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak ada kemauan politik dan gerakan rakyat untuk menuntut keadilan.
Pemimpin silih berganti memuji potensi aspal Buton, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar berani bertanya: Mengapa Indonesia belum swasembada aspal? Mengapa kita masih tergantung pada aspal minyak?
Waktunya Bertanya: Mengapa Kita Diam?
Aspal Buton adalah amanah. Ia dititipkan oleh Tuhan kepada rakyat Buton, bukan untuk dikubur, tapi untuk dikelola bagi kemaslahatan. Maka bila hari ini kita tetap diam, jangan salahkan orang luar. Karena sesungguhnya, pengkhianatan terbesar bukan datang dari penjajah lama, tetapi dari kita sendiri—yang takut menggali dan takut bersuara.
Hari ini kita tidak butuh belas kasihan dari pusat. Kita butuh kesadaran kolektif bahwa Buton punya kekayaan yang layak diperjuangkan. Jika tidak, kelak anak cucu akan bertanya:
“Mengapa kalian kubur emas di tanah sendiri, lalu memohon dari orang asing untuk membangun negeri?”








