LintasButon.com – Aktivitas pekerjaan jalan penghubung Kabupaten Buton dan Kabupaten Buton Selatan (Busel) kini menjadi sorotan masyarakat. Proyek peningkatan jalan yang melibatkan kendaraan berat dan alat angkut material dinilai menimbulkan polusi debu cukup parah, sehingga mengganggu kenyamanan bahkan membahayakan kesehatan warga sekitar, terutama anak-anak dan lansia.
Keluhan ini datang dari beberapa desa yang dilalui proyek tersebut, antara lain Desa Dongkala, Kondowa, Holimombo Jaya, Koholimombono, Wasampela, dan Wabula. Warga berharap agar pemerintah maupun pihak pelaksana proyek dapat lebih memperhatikan dampak lingkungan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di sepanjang jalur penghubung tersebut.
Kepada awak media Lintasbuton, masyarakat menyampaikan keluhannya terkait kondisi jalan yang berdebu, rusak, dan berlubang akibat aktivitas kendaraan proyek. Salah satu warga Desa Dongkala, Widyawati, mengatakan bahwa debu tebal yang ditimbulkan kendaraan proyek sangat mengganggu kehidupan warga sekitar.
“Debunya sangat tebal, apalagi kalau cuaca panas. Kami jadi sulit beraktivitas di luar rumah,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh masyarakat di beberapa desa lain yang terkena dampak langsung dari aktivitas proyek tersebut. Mereka berharap agar pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi yang mereka alami dan segera mengambil langkah untuk mengurangi polusi debu serta memperbaiki jalan yang rusak.
Warga menegaskan bahwa pembangunan memang penting untuk kemajuan daerah, namun kesehatan masyarakat tidak bisa diabaikan. Apalagi, kondisi jalan dari Desa Dongkala hingga ke Kecamatan Wabula saat ini banyak yang berlubang dan rusak parah, sehingga saat kendaraan proyek melintas, debu semakin tebal dan menyebar ke permukiman warga.
Melalui keluhan masyarakat kepada awak media Lintasbuton, pihak media kemudian menyampaikan aspirasi warga kepada pemerintah sebagai bentuk fungsi sosial kontrol terhadap pelaksanaan proyek di lapangan.
“Kami berharap pemerintah dan pihak pelaksana proyek dapat memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Setiap kegiatan pembangunan sebaiknya disertai langkah pencegahan polusi, seperti penyiraman jalan secara berkala agar debu tidak mengganggu warga,” disampaikan pihak Media Lintasbuton.
Selain itu, khususnya dinas terkait diharapkan dapat turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat dan menindaklanjuti keluhan warga secara nyata. Hal ini penting agar pelaksanaan proyek dapat berjalan lancar tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan warga sekitar.
Pihak Media Lintasbuton menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur memang menjadi kebutuhan mendesak bagi kemajuan daerah, namun pelaksanaannya harus disertai tanggung jawab sosial dan pengawasan lingkungan yang ketat. Sebagai media yang berperan dalam sosial kemanusiaan, Lintasbuton berkomitmen untuk terus menjadi wadah penyampaian aspirasi masyarakat demi terciptanya pembangunan yang seimbang antara kemajuan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat di bidang kesehatan.
Pembangunan jalan memang penting—jalan yang baik membawa kemajuan, memperlancar ekonomi, dan menghubungkan kehidupan. Tetapi di balik setiap lapisan aspal dan tumpukan material, ada paru-paru anak-anak yang berjuang melawan debu, ada napas lansia yang tersengal di tengah kabut polusi yang tak kunjung disiram.
“Kalau pembangunan hanya diukur dari panjangnya jalan yang diaspal, bukan dari sehatnya napas masyarakat yang melaluinya, maka pembangunan itu belum benar-benar berpihak pada manusia. Pembayaran boleh jalan, tapi kesehatan masyarakat itu juga harus tetap jalan.”








