LintasButon.com — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Pantai Katoba, Desa Kondowa, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, saat keluarga besar Hj. Nasrida menggelar hajatan yang dirangkai dengan acara “peknik bersama”.
Berlatar birunya laut Katoba dan hembusan angin pantai, acara yang digelar pada Minggu, 19 Oktober 2025 ini bukan sekadar pesta keluarga, melainkan juga menjadi wadah silaturahmi dan kebersamaan bagi warga Desa Kondowa dan sekitarnya.
Hamparan pasir putih yang biasanya tenang, sore itu berubah menjadi ruang tawa. Anak-anak berlarian di tepi pantai, para ibu menyiapkan hidangan tradisional di meja panjang, sementara kaum bapak bercengkerama santai di bawah rindangnya pepohonan.
“Yang paling penting bukan hanya pestanya, tapi kebersamaan dan rasa saling bantu di antara kita,” ungkap salah satu warga yang hadir penuh semangat.
Pantai Katoba seolah kembali mengingatkan masyarakat akan makna sederhana dari sebuah kebersamaan. Bukan soal kemewahan acara, tetapi bagaimana warga menikmati waktu bersama, berbagi cerita, dan mempererat tali persaudaraan.
Dalam kesempatan itu, Hj. Nasrida menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada keluarga, tetangga, dan seluruh warga yang turut hadir dan membantu kelancaran hajatan. “Semoga kebersamaan ini terus terjaga dan menjadi berkah bagi kita semua,” tuturnya dengan penuh kehangatan.
Ia pun berharap semangat kekeluargaan seperti ini terus tumbuh di Desa Kondowa — sebagaimana ombak Katoba yang datang silih berganti, membawa kesejukan dan kedamaian bagi siapa pun yang singgah.
Filosofi lokal “pianano kuicu, pi anano lompa” pun terasa hidup di tengah kegiatan ini — ungkapan yang melambangkan gotong royong, saling menghargai, dan hidup dalam harmoni, sejalan dengan semangat Persatuan Indonesia dalam sila ketiga Pancasila.
Dan barangkali, di tengah hembusan angin laut dan riuh tawa anak-anak yang berlarian, Pantai Katoba hari itu bukan sekadar lokasi hajatan, tapi cermin sederhana dari persaudaraan warga. Sebuah “wisata hati” di tepian pantai — tempat rakyat berpesta tanpa gemerlap, tapi penuh makna dan kehangatan yang sulit dilupakan.
Uniknya, tanpa perlu panggung besar atau perayaan resmi, Hj. Nasrida justru menghadirkan suasana yang jauh lebih hidup. Pantai Katoba mendadak menjadi ruang rakyat yang sesungguhnya — tempat di mana kebahagiaan dibangun dari ketulusan, bukan dari seremonial.
Masyarakat datang bukan karena undangan, tapi karena rasa kebersamaan. Mereka hadir bukan untuk menonton, tapi untuk ikut bergembira. Barangkali inilah wajah sejati Desa Kondowa: sederhana, bersahaja, tapi penuh rasa persaudaraan. Sebuah potret kecil yang mengingatkan bahwa kadang, semangat hidup dan gotong royong rakyat jauh lebih kuat dari segala bentuk kemeriahan yang dibuat-buat.








