LimtasButon.com — Di keheningan malam, ketika angin laut berbisik melalui celah-celah batu karang, ada nyanyian yang terlupakan. Bumi Buton menyanyi dengan suara yang serak, bercerita tentang kekayaan yang ia simpan dalam rahim, namun tak seorang pun yang mendengarkan melodi kekayaannya.
Ia bernyanyi tentang jutaan tahun yang ia habiskan untuk memasak bitumen dalam perut gunungnya. Tentang panas bumi yang ia tahan, tekanan lautan yang ia dukung, hanya untuk melahirkan emas hitam yang kini terbengkalai seperti mutiara di dasar laut yang tak pernah dipungut.
Keluhan Sang Ibu Pertiwi
“Anakku,” bisik bumi dengan suara gemetar, “mengapa kalian berlari ke tanah tetangga mencari apa yang sudah kuberikan?”
Setiap hari, bumi menyaksikan truk-truk pengangkut aspal impor melintasi jalannya. Setiap hari, ia mendengar keluhan tentang mahalnya bahan konstruksi. Namun tak seorang pun yang menoleh kepada kekayaan yang ia tawarkan dengan cuma-cuma.
Bumi Buton menangis dalam diam. Air matanya menjadi embun pagi yang membasahi rerumputan di atas cadangan aspalnya. Ia seperti ibu yang kaya raya, namun anak-anaknya memilih menjadi pengemis di negeri orang.
Lagu Rindu untuk Masa Lalu
Ada masa ketika bumi ini dihormati. Ketika nenek moyang memahami bahwa setiap batu, setiap tanah, setiap tetes air adalah anugerah yang harus disyukuri. Mereka tidak mengambil lebih dari yang mereka butuhkan, dan mereka tidak membuang apa yang sudah diberikan.
Kini, bumi menyanyikan lagu kerinduan untuk masa itu. Ia merindukan tangan-tangan yang lembut namun bijaksana, yang tahu cara mengolah pemberiannya menjadi berkah untuk semua. Bukan tangan yang serakah, bukan pula tangan yang malas.
“Kembalilah, anak-anakku,” ia menyanyi, “kembalilah dan dengarkan apa yang ingin kuberikan.”
Nyanyian Perbandingan dari Tanah Seberang
Dari kejauhan, bumi Buton mendengar nyanyian gembira dari Alberta, Kanada. Di sana, bumi juga menyimpan bitumen dalam perutnya. Namun bedanya, anak-anak Alberta mendengar nyanyian bumi mereka. Mereka menggali, mengolah, dan mengubah bitumen menjadi energi yang menghangatkan rumah-rumah mereka.
Bumi Alberta bernyanyi dengan bangga: “Lihatlah anak-anakku, mereka menghargai pemberianku. Dari perutku, mereka ciptakan kemakmuran untuk generasi mendatang.”
Sementara bumi Buton hanya bisa iri. Ia memiliki kekayaan yang sama, bahkan mungkin lebih melimpah. Namun anak-anaknya sibuk berdebat tentang teknik, tentang regulasi, tentang birokrasi, sementara kekayaan itu terus tertidur dalam perutnya.
Tangisan untuk Masa Depan
Bumi mulai khawatir. Ia melihat dunia berubah. Energi terbarukan mulai menggantikan fosil. Teknologi hijau mulai merajai panggung global. Ia takut, jika anak-anaknya tidak segera mendengar nyanyiannya, maka kekayaan yang ia simpan akan kehilangan nilai.
“Jangan tunggu sampai aku tua dan tak berguna,” ia meratap. “Ambillah pemberianku selagi dunia masih membutuhkannya. Olah dengan bijak, gunakan dengan bertanggung jawab.”
Namun yang ia dengar hanyalah gema birokrasi yang bergema di ruang-ruang rapat. Seminar demi seminar digelar, namun tak satupun yang berujung pada tindakan nyata. Bumi lelah menunggu. Ia mulai menyanyikan lagu sedih, lagu tentang peluang yang tersia-sia.
Nyanyian Teknologi yang Terlupakan
Di dalam perutnya yang dalam, bumi menyimpan rahasia-rahasia teknologi. Ia telah menyiapkan bitumen yang bisa diubah menjadi synthetic crude oil, seperti yang dilakukan saudara-saudaranya di Alberta. Ia telah menyediakan bahan baku untuk petrokimia, untuk plastik ramah lingkungan, untuk bahan bakar masa depan.
“Lihatlah apa yang bisa kulakukan,” ia menyanyi dengan bangga, “dari tubuhku bisa lahir etilena dan propilena. Dari napasku bisa tercium aroma hydrogen biru. Bahkan sisa-sisa yang kalian anggap sampah bisa menjadi karbon aktif yang berharga.”
Namun anak-anaknya masih terpaku pada cara lama. Mereka hanya melihat aspal sebagai penambal jalan, bukan sebagai pintu gerbang menuju revolusi industri. Mereka tidak mendengar nyanyian teknologi yang ditawarkan bumi dengan tulus.
Jangan Biarkan Lagu Ini Menjadi Nyanyian Kematian
Waktu tidak menunggu. Dunia berubah, teknologi melesat, dan peluang bisa hilang dalam satu dekade yang diabaikan. Jika bumi Buton terus bernyanyi tanpa pendengar, maka lagu itu akan menjadi requiem—nyanyian kematian untuk kekayaan yang tak pernah disambut.
Kini saatnya mendengar. Bukan hanya dengan telinga, tapi dengan keberanian untuk bertindak.
Sebab ketika tanah berbicara dan anak bangsa tetap diam, yang tertinggal hanya penyesalan di atas kekayaan yang sudah kehilangan makna.








