LintasButon.com – Universitas Muhammadiyah Buton (UM Buton) resmi menurunkan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2025 di Desa Dongkala, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton. Sebanyak 14 mahasiswa dari berbagai program studi siap melaksanakan pengabdian masyarakat sesuai bidang ilmu masing-masing.
Para mahasiswa tersebut berasal dari Program Studi Teknik Sipil, Rekayasa Sistem Komputer, Pendidikan Guru SD, PG-PAUD, Manajemen, Ilmu Pemerintahan, Ilmu Komunikasi, Ilmu Hukum, hingga Akuntansi. Mereka akan berada di tengah masyarakat Desa Dongkala untuk menjalankan program kerja nyata, baik secara fisik maupun non-fisik, selama 1 bulan penuh.
Kedatangan mahasiswa KKN diterima langsung oleh Kepala Desa Dongkala, La Hasani, di Kantor Desa Dongkala pada Kamis, 25 September 2025. Dalam penyampaiannya, La Hasani menegaskan dukungannya terhadap pelaksanaan KKN dan berharap program-program mahasiswa dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Ketua panitia KKN, Dr. Samsul Bahari, SE., M.E., menjelaskan bahwa KKN bukan hanya kegiatan seremonial semata, melainkan wujud nyata dari tridharma perguruan tinggi. “Mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dan inovasi baru bagi masyarakat, sesuai dengan bidang ilmu yang mereka tekuni,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris panitia, Dr. Maruf, M.Pd., menambahkan bahwa kegiatan KKN juga menjadi ajang bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat. “Melalui interaksi sosial, mahasiswa dapat mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan manajemen program di lapangan,” ungkapnya.
Kegiatan ini dibimbing oleh dosen pembimbing Hasni, SE., M.Si. (NIDN: 0919077601), yang akan mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan KKN.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Desa Dongkala yang telah memberikan izin dan dukungan penuh. Kehadiran mahasiswa KKN diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di desa tersebut.
Sebagai penutup, layak kiranya Dongkala disebut panggung pembelajaran yang sesungguhnya. Di sini mahasiswa belajar tentang arti pengabdian, dan masyarakat pun mendapat energi baru dari semangat generasi muda. Barangkali inilah harmoni sederhana yang kadang tak mampu diracik oleh kebijakan besar, tapi justru lahir dari ruang desa yang bersahaja.








