LintasButon.com – Suasana pagi di aula kantor Desa Koholimombono, Kecamatan Wabula, Jumat (26/9/2025) pukul 08.40 WITA, terasa berbeda. Puluhan masyarakat bersama tokoh adat, tokoh agama, hingga Ketua BPD berkumpul mengikuti rapat desa yang dipimpin langsung oleh Kepala Desa Koholimombono, La Amiri.
Agenda rapat kali ini tak main-main: membicarakan ketahanan pangan berbasis jagung hibrida dengan lahan sekitar 2 hektar, serta pengaspalan jalan lingkungan sepanjang 168 meter. Dua program yang sama-sama menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Untuk diketahui, program ketahanan pangan ini merupakan program dari pemerintah pusat yang dijalankan melalui dana desa. Di tengah kondisi harga barang pokok yang kian merangkak naik, program ini menjadi angin segar bagi masyarakat karena tidak hanya menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi melalui penanaman jagung hibrida.
Terkait pengaspalan jalan lingkungan, Kades La Amiri menegaskan bahwa pemerintah desa membuka kesempatan kerja bagi warga setempat.
“Siapa pun yang ingin mendaftar silakan, mulai hari ini sampai tiga hari ke depan. Pendaftarannya melalui Kepala Dusun atau RT, dan satu KK hanya diperbolehkan satu orang saja,” jelasnya di hadapan peserta rapat. Ia juga menambahkan bahwa BPD maupun perangkat desa tidak diperkenankan untuk ikut serta dalam pekerjaan fisik, agar kesempatan kerja benar-benar diberikan kepada masyarakat.
Rapat berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Usai pemaparan, sesi tanya jawab pun dibuka. Salah seorang warga menanyakan soal pembentukan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) khusus untuk program ketahanan pangan. Melalui musyawarah bersama, akhirnya disepakati Arjun sebagai ketua TPK, La Sihadi sebagai sekretaris, Rahma Wati sebagai bendahara, dengan pengawasan dari BPD dan masyarakat.
Pertanyaan lain muncul, kali ini soal manfaat dan keuntungan program ketahanan pangan. Dengan tenang, Kades La Amiri menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika nanti ada keuntungan, hasilnya tetap akan dikembalikan kepada masyarakat.
Di akhir rapat, pemerintah Desa Koholimombono menyampaikan harapan agar seluruh masyarakat dapat ikut mendukung dan berpartisipasi aktif. Sebab program desa, baik ketahanan pangan maupun pembangunan infrastruktur, hanya bisa berhasil bila masyarakat bersama-sama menjaganya. Pemerintah desa menegaskan bahwa kolaborasi dan gotong royong adalah kunci agar manfaat program benar-benar bisa dirasakan oleh semua warga.
Rapat kemudian ditutup dengan doa oleh Hatib Desa Koholimombono, Hertui, menandai berakhirnya pertemuan penuh musyawarah itu.
Program ketahanan pangan di Desa Koholimombono tak sekadar soal menanam jagung, melainkan menanam pengabdian. Sebab jagung hanyalah tanaman, sementara pengabdian adalah warisan. Jika jagung bisa dipanen dalam hitungan bulan, maka pengabdian akan dipetik sepanjang masa. Dan di tengah harga sembako yang kian melonjak, masyarakat tak hanya butuh janji manis, tetapi aksi nyata. Karena sesungguhnya, kesejahteraan itu hadir bukan dari kata-kata besar, melainkan dari kerja tulus yang memberi manfaat hingga ke dapur setiap rumah tangga.








