LintasButon.com, Kendari – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Sulawesi Tenggara menjadi momentum penting untuk menitipkan pesan moral kepada seluruh anak-anak. Gubernur ASR yang berhalangan hadir, diwakili oleh Sekda Provinsi Sulawesi Tenggara, Asrun Lio, yang membacakan sambutan sekaligus membuka secara resmi jalannya acara.
“Anak-anak adalah harapan bangsa. Hormati orang tua, taati guru, dan jauhi narkoba. Jangan pernah terjerumus pada hal-hal yang tidak terpuji,” tegas Asrun Lio saat menyampaikan sambutan Gubernur.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberikan apresiasi kepada enam kabupaten/kota yang berhasil meraih predikat Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Enam daerah itu yakni Kota Kendari, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Buton, dan Kota Baubau.
Menurutnya, capaian itu harus menjadi motivasi bagi daerah lain untuk terus berbenah. “Harapan kita bersama, Sultra bisa menjadi provinsi layak anak, menuju Indonesia Layak Anak (IDOLA) tahun 2030,” ujarnya.
Acara peringatan HAN kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar anak-anak Sulawesi Tenggara senantiasa berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. “Semoga mereka tumbuh menjadi putra-putri bangsa yang unggul, maju, dan siap membawa Indonesia ke arah yang lebih baik,” tutupnya.

Namun di balik doa dan seremoni itu, capaian Kabupaten Buton yang masuk dalam hitungan KLA ibarat tamparan halus yang berubah jadi sanjungan manis. Tamparan, karena di balik predikat tersebut masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan: ruang ramah anak yang terbatas, taman bermain yang bisa dihitung dengan jari, hingga fasilitas publik yang lebih sering ramah bagi orang dewasa ketimbang bagi anak-anak. Sanjungan, karena meski dalam keterbatasan, Kabupaten Buton tetap mampu membuktikan diri, berdiri sejajar dengan daerah lain yang lebih mapan.
Layaknya gong besar Buton yang tetap nyaring ditabuh meski permukaannya retak, begitulah pengabdian ini: ada luka yang belum tuntas, tetapi bunyi pengabdiannya sudah menggema. Kabupaten Buton memang belum sempurna, namun langkah menuju predikat KLA adalah bukti bahwa kerja keras dan kebersamaan masih menjadi jalan yang dipercaya.
Sanjungan ini bukan sekadar pujian, melainkan pengingat bahwa Kabupaten Buton memiliki kekuatan untuk memberi teladan. Sebab di tanah pengabdian, predikat hanyalah pintu masuk, sementara isi rumahnya tetap harus dibangun dengan kesungguhan. Karena KLA sejatinya bukan hanya tentang piagam dan seremoni, melainkan tentang anak-anak Buton yang berhak tertawa lepas di tanah kelahirannya.








