LintasButon.com – Kejaksaan Negeri Buton menggelar Rapat Tim Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan dalam Masyarakat (Pakem) Trimester Ketiga di Aula Kejari Buton, Jumat (19/9/2025) sekitar pukul 09.00 WITA.
Rapat yang dipimpin langsung oleh Kepala Kejari Buton, Gunawan Wisnu Murdiyanto, S.H., M.H., melalui Kasi Intelijen Kejari Buton, Norbertus Dhendy Restu Prayogo, S.H., M.H., ini bertujuan mencegah masuknya aliran sesat maupun ajaran menyimpang di wilayah hukum Kejari Buton yang meliputi Kabupaten Buton, Buton Tengah, dan Buton Selatan.
Tim Pakem tersebut terdiri dari unsur kejaksaan, kepolisian, TNI, Badan Intelijen Negara, Badan Kesbangpol, Kantor Kementerian Agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta sejumlah instansi terkait di tiga kabupaten. Hadir pula perwakilan tokoh agama, termasuk Ketua Jemaat Gereja Kaukau dan pendeta.
“Tugas Pakem ini adalah senantiasa melakukan koordinasi dalam pengawasan aliran keagamaan dan aliran kepercayaan di masyarakat. Setiap instansi sudah memiliki tupoksi masing-masing,” ungkap Dhendy usai rapat.
Ia menjelaskan, Tim Pakem berfungsi menampung data dan informasi terkait kegiatan masyarakat yang dicurigai menyimpang dari ajaran syariat agama dan kepercayaan. Selanjutnya, hasil koordinasi akan menjadi dasar untuk menentukan langkah atau tindakan yang diperlukan.
Dari hasil rapat, sejauh ini belum ditemukan adanya aliran kepercayaan atau aliran keagamaan menyimpang di tiga kabupaten tersebut. “Namun itu tidak menutup kemungkinan bisa saja terjadi, sehingga harus diantisipasi sejak dini. Ini bagian dari langkah intelijen kejaksaan untuk deteksi dini,” tandasnya.
Dhendy juga menghimbau agar seluruh peserta rapat bersama-sama mencegah dan mewaspadai potensi ajaran menyimpang yang dapat menimbulkan kebencian, permusuhan, serta mengganggu kerukunan antarumat beragama.
Kegiatan rapat Pakem berakhir sekitar pukul 11.00 WITA dalam keadaan aman dan lancar.
Sebagaimana pepatah agama yang kerap diingatkan para tokoh, “menjaga iman lebih sulit daripada menjaga harta.” Karena harta yang hilang bisa dicari, tetapi iman yang tergadaikan sulit untuk ditebus kembali. Maka langkah antisipasi dini seperti rapat Pakem ini menjadi ikhtiar bersama agar umat tetap berada di jalan lurus, tidak goyah oleh ajaran yang menyesatkan, dan kerukunan di bumi Buton tetap terjaga dalam bingkai kebersamaan serta doa.








