LintasButon.com – Ada waktu di mana rakyat bicara bukan lewat mikrofon di acara seremonial, tapi lewat tatapan kosong di pasar, lewat bau solar yang menempel di baju nelayan, atau lewat tangan petani yang hitam terbakar matahari. Tapi, sayangnya, telinga para pengambil kebijakan kadang hanya peka jika suara itu datang dengan iringan tepuk tangan.
Di kampung, orang sibuk memikirkan bagaimana besok bisa makan. Di kota, sebagian pejabat sibuk memikirkan baju apa yang cocok untuk rapat penting. Di dermaga kecil, nelayan mengikat perahu yang hampir roboh. Di gedung megah, pintu ruang rapat menutup rapat-rapat, membicarakan nasib rakyat… tanpa rakyat di dalamnya.
Petani berkata lirih, “Kami tak minta kaya, kami hanya minta hidup layak.”
Nelayan menambahkan, “Kami tak minta kapal besar, kami hanya minta harga ikan yang adil.”
Seorang ibu berbisik sambil menggendong anaknya, “Kami tak minta kemewahan, kami hanya minta anak kami bisa sekolah.”
Tapi entah kenapa, semua ini kadang dianggap sebagai beban yang “nanti saja dibicarakan kalau ada waktu dan anggaran.”
Oh, dan jangan lupa alasan klasik yang sudah jadi lagu wajib: “Sekarang lagi efisiensi anggaran.”
Seakan-akan rakyat hidupnya bisa ikut di-efisiensi—makan setengah porsi, sekolah setengah hari, atau berobat setengah sembuh.
Lucunya, efisiensi itu jarang berlaku di ruang rapat yang AC-nya dingin, di perjalanan dinas yang tiketnya kelas bisnis, atau di makan malam resmi yang menunya tak pernah tahu harga minyak goreng di pasar.
Di atas kertas, semua terlihat rapi: laporan disusun, program diumumkan, target ditetapkan. Tapi di lapangan, petani tetap memikul karung pupuk yang makin mahal, nelayan tetap pulang dengan keranjang setengah kosong, dan ibu-ibu tetap memutar otak untuk memasak lauk dari bahan seadanya.
Mungkin sudah waktunya para pemangku kepentingan mencoba sekali saja membalik peran—duduk di geladak perahu semalaman, menanam padi di sawah kering, atau belanja di pasar dengan uang seadanya. Siapa tahu, setelah itu, telinga mereka akan lebih peka terhadap suara wong cilik yang selama ini hanya terdengar seperti bisik-bisik di tengah riuhnya dunia mereka.
Artikel ini disusun dengan bantuan teknologi AI. Namun kurasi, penyuntingan narasi, peninjauan fakta, serta pengeditan akhir sepenuhnya dilakukan oleh tim redaksi.








