LintasButon (SAMSUL)
LintasButon.Com – Semangat menjaga laut sebagai warisan generasi kembali digaungkan dari Takawa. Bertempat di Aula Kantor Bupati Buton pada Rabu, 6 Agustus 2025, Pemerintah Kabupaten Buton menggelar peluncuran resmi Kemitraan Kepala Desa/Lurah Pesisir atau Coastal 500, yang mempertegas peran desa dalam pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan.
Kegiatan ini diikuti oleh puluhan kepala desa, lurah, dan camat dari berbagai wilayah di Buton. Hadir pula Penjabat Sekda Buton, La Ode Syamsudin, serta para kepala dinas dan pejabat daerah yang menyatakan dukungan mereka terhadap penguatan desa-desa pesisir.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Murtaba Muru, M.A., membuka laporan kegiatan dengan gaya khasnya—mengalirkan pantun yang membuat suasana ruangan cair dan akrab. Dalam laporannya, Murtaba menekankan bahwa Coastal 500 bukan hanya kemitraan biasa, melainkan ruang gerak bagi kepala desa dan lurah untuk mengambil peran lebih nyata dalam melindungi ekosistem pesisir.
“Coastal 500 ini bukan soal seremoni. Ini gerakan. Gerakan dari desa, untuk laut yang lestari dan adil,” ujar Murtaba dengan penuh keyakinan.

Pesan Tegas Bupati: Jangan Lepas Tangan Setelah Bantuan
Sementara itu, Bupati Buton, Alvin Akawijaya Putra, S.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa pembangunan tanpa pendampingan hanya akan melahirkan ketergantungan. Ia mengingatkan seluruh jajaran pemerintah daerah, dari dinas hingga camat dan kepala desa, untuk tidak hanya memberikan bantuan lalu pergi begitu saja.
“Jangan kasih bantuan lalu ditinggal. Kita ingin pembangunan yang disertai tanggung jawab. Kita ingin laut yang tetap biru untuk anak cucu kita,” ucap Alvin, disambut tepuk tangan hadirin.
Lebih lanjut, Alvin menyampaikan refleksi kritisnya setelah lima bulan menjabat sebagai bupati. Ia menyoroti kebiasaan buruk yang menurutnya harus dihentikan.
“Saya lihat dari Dinas Perdagangan saja, misalnya. Memberi bantuan ke UMKM, tapi tidak ada monitoring, tidak ada supervisi. Setelah dibantu, ditinggal begitu saja,” ujar Alvin.
Ia juga mengingatkan Dinas Kelautan agar tidak mengulangi pola yang sama. Menurutnya, visi pembangunan yang berkelanjutan tidak bisa hanya sebatas pemberian alat atau bantuan fisik tanpa kontrol dan tanggung jawab lanjutan.
“Saya harap Kadis Kelautan paham betul, ini PR. Jangan sampai nanti bantuan cuma jadi formalitas, apalagi hanya karena lobi-lobi dari DPR buat konstituen. Saya tidak tahu, saya baru lima bulan jadi bupati, mungkin saya salah juga. Tapi saya bicara dari hati,” tuturnya.
Tak hanya OPD, Alvin juga mengajak para camat, kepala desa, dan lurah untuk bekerja dengan hati nurani dan menjunjung visi bersama dalam membangun Buton.
“Saya tidak butuh dilawan. Kalau ada yang tidak sejalan, datang dan bicara dengan saya. Kita perbaiki sama-sama. Ini rumah kita,” tegasnya.
Pemaparan Fare Face: Enam Modal untuk Bangun Laut yang Berkelanjutan
Dalam pemaparannya, Fare Face, Presiden Rare Indonesia, menyampaikan rasa hormat dan kedekatannya dengan Buton. Menurutnya, Rare sudah menganggap Buton sebagai rumah kedua, mengingat kedekatan dan kerja sama yang telah terjalin lama dengan masyarakat dan pemerintah daerah.
“Terima kasih Pak Bupati atas sambutannya. Buton ini bukan lagi tamu bagi Rare. Ini sudah seperti rumah kedua kami,” ungkap Fare, mengawali presentasinya.
Ia menyampaikan bahwa dalam membangun wilayah pesisir, tak cukup hanya berbicara soal dana. Ada enam modal utama pembangunan yang harus diperkuat: modal finansial, sumber daya manusia, sumber daya alam, teknologi, inovasi, dan budaya.
“Modal pertama adalah finansial. Memang, tanpa dana, kita sulit membangun, apalagi di sektor perikanan yang padat modal. Tapi uang bukan satu-satunya kekuatan,” tegasnya.
Fare menekankan pentingnya modal kedua, yaitu sumber daya manusia, sembari menyebutkan bahwa Rare telah membina enam kelompok PHP (Perlindungan Habitat Perikanan) di Buton, yang kini menjadi ujung tombak perlindungan laut.
Modal ketiga yang tak kalah penting adalah sumber daya alam. Buton, menurutnya, masih memiliki ekosistem pesisir yang penting dan relatif terjaga—seperti terumbu karang, hutan mangrove yang rimbun, dan perairan bakau yang subur.
“Di Buton ini, kami lihat banyak mangrove tebal yang jadi tempat hidup kepiting bakau besar-besar. Ini potensi besar yang harus dijaga,” katanya.
Modal keempat dan kelima adalah teknologi dan inovasi, sedangkan modal keenam adalah budaya—nilai lokal dan adat masyarakat yang diwariskan dalam menjaga alam.
“Kita sebenarnya sedang meminjam laut ini dari anak cucu kita. Maka tugas kita adalah mengembalikannya dalam kondisi yang lebih baik,” tutup Fare.

Dialog Terbuka: Suara dari Pesisir Buton
Usai sambutan dan pemaparan utama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Bincang Pesisir yang menghadirkan beragam perspektif:
Talkshow : Membangun komitmen bersama dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan No.14 di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara oleh:
1. Kepala Bappeda Kab. Buton
2. Kepala Dinas Perikanan Kab. Buton
3. Kepala Dinas DPMD Kab. Buton
4. Rektor ITK Buton
• Cerita Baik Dari desa; Pelaksanaan Program PAAP dan Strategi Pembangunan Desa di masa mendatang di Desa Kumbewaha dan Desa Wasuemba
• Diskusi (tanya Jawab Peserta)
Narasumber:
1. Drs. Awaluddin, Kepala Bappeda Kabupaten Buton
2. Rasmin Rahman, S.Pi, M.MA, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Buton
3. Drs. Murtaba Muru, MA, Kepala Dinas PMD Kabupaten Buton
4. Prof. H. La Sara, PHD. Rektor Institut Teknologi Kelautan Buton
5. Muharuddin, Kepala Desa Kumbewaha
6. La Tuni, Kepala Desa Wasuemba
Moderator : Ray Chandra Purnama, Direktur Kebijakan – Rare Indonesia
Diskusi berlangsung terbuka dan hidup. Para peserta menyuarakan tantangan dan peluang di desa-desa pesisir, mulai dari tekanan terhadap sumber daya laut, degradasi lingkungan, hingga pentingnya membangun sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, akademisi, dan NGO.
Di penghujung kegiatan, di antara gemuruh tepuk tangan dan cahaya matahari yang menerpa daun kelapa di kejauhan, satu pesan terasa begitu nyata: bahwa laut bukan sekadar bentangan air asin yang luas. Ia adalah ruang hidup, ruang nilai, dan ruang harapan.
Dari desa-desa di pesisir Buton, suara angin laut seakan membawa pesan: bahwa di balik debur ombak, ada tekad yang tumbuh. Bahwa pasir yang digulung air pasang tidak hanya membawa garam, tapi juga harapan. Harapan bahwa laut yang jernih, terumbu yang utuh, dan bakau yang rimbun dapat tetap diwariskan.
Dan warisan itu kini dijaga mulai dari akar – dari para kepala desa dan lurah yang berdiri tegak di ujung negeri, menulis bab baru tentang kesetiaan pada laut. Desa menjaga laut, dan laut menjaga desa.
Dengan Coastal 500, Buton tidak hanya menjadi bagian dari jaringan global, tetapi juga menjadi suara dari timur Indonesia, yang berkata dengan lantang: kami siap menjaga samudra dari tempat paling dekat dengannya – dari desa kami.








