Butonpos.com – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Buton sejak malam hingga siang hari menyebabkan banjir di sejumlah titik, khususnya di kawasan Wabaelangko dan ruas Jalan Poros Wabula–Pasarwajo. Titik terparah terpantau di wilayah Desa Kondowa, Kecamatan Pasarwajo, di mana luapan air dari anak Sungai Raha meluap ke badan jalan, menghanyutkan material pasir dan kerikil, serta mengganggu kelancaran lalu lintas.

Peristiwa ini terjadi pada Senin, 30 Juni 2025, sekitar pukul 10.00 WITA, saat intensitas hujan mencapai puncaknya. Kondisi ini makin parah akibat buruknya sistem drainase. Akses utama yang menghubungkan Kecamatan Wabula dengan Kecamatan Pasarwajo lumpuh total. Arus air deras dan tingginya genangan menyebabkan kendaraan roda dua maupun roda empat tak dapat melintas. Aktivitas harian masyarakat, termasuk warga yang hendak ke pasar, sekolah, ataupun bekerja ke pusat kota Pasarwajo, terhambat total.

Kawasan Wabaelangko, yang dikenal sebagai jalur strategis—bukan kampung ataupun desa, melainkan titik penting penghubung masyarakat—juga ikut terendam. Selain jalan raya, genangan air turut memasuki sejumlah lahan kebun warga di sekitar lokasi, menyebabkan kerugian ekonomi dan kekhawatiran akan dampak banjir berkepanjangan.

Sejumlah personel dari Koramil 1413-02/Pasarwajo bersama Babinsa setempat langsung turun ke lokasi setelah laporan warga diterima pada sekitar pukul 08:13 WITA. Mereka membantu warga, mengatur lalu lintas, dan memantau kondisi banjir guna menghindari kecelakaan dan kemacetan. Kehadiran para prajurit TNI ini disambut positif oleh masyarakat yang merasa terbantu dalam situasi darurat.
Namun di sisi lain, kekecewaan juga mencuat dari masyarakat. Seorang warga asal Kecamatan Wabula yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan keresahannya. “Ini bukan yang pertama. Hampir setiap hujan lebat, kami selalu begini. Jalan poros terendam, kami tidak bisa keluar-masuk. Mau ke kota, ke pasar, atau ke kantor jadi terhambat. Drainasenya jelek, tidak ada perhatian serius dari pemerintah,” ungkapnya dengan nada geram.
Warga berharap kejadian ini tidak hanya dijadikan bahan dokumentasi atau sekadar laporan biasa. Mereka menuntut adanya langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Buton. Jangan sampai pemerintah terlalu sibuk dengan aktivitas bersih-bersih simbolik atau perjalanan dinas keluar daerah, namun abai terhadap kondisi darurat di wilayah sendiri.
“Apalah gunanya daerah kita ini dikenal sebagai penghasil aspal terbesar di dunia, kalau jalan poros utama saja bisa lumpuh karena banjir,” tambah warga lainnya.
Wabaelangko bukan sekadar titik genangan, tapi menjadi simbol lemahnya perencanaan tata ruang dan infrastruktur dasar yang harusnya sudah dibenahi sejak lama.
Hingga pukul 14.00 WITA, belum tampak kehadiran atau pernyataan resmi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Buton. Tidak ada langkah konkret yang ditunjukkan, padahal masyarakat menunggu respons cepat dan tanggap terhadap peristiwa yang sudah berulang kali terjadi.








