LintasButon.com – Suasana penuh kebersamaan tampak di Desa Koholimombono, Kecamatan Wabula, Buton. Pengerjaan pengaspalan jalan lingkungan yang dibiayai melalui Dana Desa Tahun Anggaran 2024 akhirnya rampung pada Rabu, 8 Oktober 2025. Pembangunan ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menjadi simbol nyata kebersamaan masyarakat.
Dalam prosesnya, bapak-bapak dan ibu-ibu ikut turun tangan. Sebagian membantu pekerjaan fisik, sementara yang lain menyiapkan konsumsi, menjaga kelancaran, dan memberi dukungan penuh. Suasana gotong royong kental terasa, seakan menjadi napas dari setiap tahapan pembangunan.
Perlu diketahui, Desa Koholimombono merupakan salah satu khadie dalam Kesultanan Buton. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur seperti pengaspalan jalan lingkungan tidak hanya memperlancar akses warga, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi dan nilai budaya lokal.
Kepala Desa Koholimombono, La Amiri, saat ditemui kru redaksi LintasButon.com menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak lepas dari keterlibatan warga. “Pengaspalan jalan lingkungan ini bukan hanya urusan pemerintah desa, melainkan juga tanggung jawab bersama seluruh warga. Keterlibatan bapak-bapak dan ibu-ibu dalam pekerjaan fisik menunjukkan kepedulian warga terhadap pembangunan desa. Kami berharap dengan kebersamaan ini, hasil pembangunan tidak hanya cepat selesai, tetapi juga lebih terjaga kualitasnya,” jelasnya.
Di lapangan, semangat gotong royong terlihat jelas. Bapak-bapak bahu membahu mengangkat material dan meratakan aspal, sementara ibu-ibu menyiapkan hidangan dan turut menjaga suasana tetap kondusif. Deru mesin bercampur dengan tawa dan canda kebersamaan, menghadirkan suasana kekeluargaan yang mempercepat proses pekerjaan.
Menariknya, meskipun upah yang diterima warga tidak besar, semangat mereka tetap tinggi. Bagi masyarakat, manfaat pembangunan ini jauh lebih berharga karena mendukung aktivitas harian sekaligus membawa dampak jangka panjang bagi desa.
Pemerintah desa menegaskan bahwa pengaspalan jalan lingkungan ini adalah wujud nyata dari sinergi antara dana pembangunan dan partisipasi masyarakat. Pembangunan fisik dipandang bukan sekadar proyek, melainkan sarana memperkuat persaudaraan dan kebersamaan.
Dengan pencapaian ini, Desa Koholimombono layak dijadikan contoh bagi desa-desa lain di Buton. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat dan pemerintah desa bersatu, saling mendukung, dan menjaga semangat gotong royong, pembangunan dapat berjalan sukses dan memberi manfaat luas bagi seluruh warga.
Meski warga telah berupaya maksimal, terselip harapan agar pemerintah Buton lebih sering “menengok” desa-desa seperti Koholimombono, bukan hanya saat acara seremonial atau foto bersama. Pemerintah desa telah menunjukkan bahwa inisiatif, kerja nyata, dan kebersamaan mampu menghasilkan akses jalan yang lebih baik bagi semua, sehingga dukungan yang lebih nyata dari pihak pemerintah tentu akan semakin memperkuat semangat gotong royong dan pembangunan di tingkat desa.








