LintasButon.com — Wakil Bupati Buton, Syarifudin Saafa, ST, menegaskan bahwa penanganan kebakaran di Kabupaten Buton tidak bisa hanya bertumpu pada peran pemadam kebakaran (Damkar).Penegasan tersebut disampaikannya saat diwawancarai sejumlah awak media pada 5 Januari kemarin, menanggapi peristiwa kebakaran yang terjadi di Pasar Kaloko.
Menurut Syarifudin, cara berpikir dalam menghadapi kebakaran harus lebih kritis dan menyeluruh, bukan sekadar reaktif setelah kejadian, melainkan melibatkan kesiapsiagaan pemerintah daerah, penataan wilayah, serta peran aktif masyarakat.
“Kita tidak bisa berpikir kritis terkait kebakaran kalau hanya melihat dari sisi Damkar saja. Ini bukan hanya urusan satu instansi, masyarakat juga harus terlibat dan tanggap,” ujar Syarifudin.
Ia menjelaskan, ke depan pemerintah daerah akan mendorong penataan bangunan pasar maupun pemukiman warga agar lebih aman dari risiko kebakaran, termasuk pengaturan jarak antar bangunan sebagai langkah pencegahan.
“Bangunan pasar harus diatur, harus ada jarak. Ini bukan hanya pasar, tapi juga pemukiman warga yang harus siap menghadapi potensi kebakaran,” jelasnya.
Menjawab pertanyaan wartawan terkait penyebab kebakaran Pasar Kaloko, Wakil Bupati Buton menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada informasi resmi yang memastikan sumber awal kebakaran tersebut.
“Sampai hari ini kami belum mendapatkan informasi pasti. Kami tetap berupaya mencari kejelasan, karena ini aset negara sehingga harus jelas penanganannya,” tegasnya.
Terkait kerugian pascakebakaran, Syarifudin mengungkapkan bahwa pemerintah daerah belum menerima laporan resmi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).
“Untuk kerugian pascakebakaran, sampai sekarang kami belum mendapat informasi dari Disperindag. Namun kami tetap berusaha dan seiring berjalannya waktu data tersebut akan kami himpun,” katanya.
Ia juga menyoroti kendala teknis di lapangan, khususnya akses jalan yang sempit, yang kerap menyulitkan mobil pemadam kebakaran dalam melakukan operasi.
“Problem kita ini adalah jalan. Banyak akses yang kecil sehingga mobil Damkar sulit beroperasi,” ungkapnya.
Syarifudin berharap pada tahun berjalan ini, kondisi anggaran daerah tetap memungkinkan untuk memperkuat sarana dan prasarana kebakaran, termasuk penambahan armada pemadam dengan kapasitas yang sesuai dengan karakter wilayah.
“Semoga di tahun ini dana kita terus ada. Kita upayakan mendatangkan mobil Damkar berkapasitas sekitar 5.000 liter, karena kondisi wilayah itu berbeda,” ujarnya.
Menurutnya, kawasan Pasarwajo yang padat penduduk membutuhkan penanganan kebakaran yang lebih cepat dan sigap, berbeda dengan wilayah Kapontori, Lasalimu, dan Wabula yang relatif tidak sepadat Pasarwajo.
“Pasarwajo itu padat, beda dengan Kapontori, Lasalimu, dan Wabula. Jadi penanganannya tidak bisa disamakan,” pungkas Syarifudin.
Di balik peristiwa kebakaran yang menyisakan duka dan kerugian, terselip keyakinan bahwa apa yang terjadi merupakan bagian dari rencana Allah SWT. Setiap ujian memiliki hikmah, dan tidaklah Allah menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Dari musibah ini, harapannya bukan hanya bangunan yang kembali berdiri, tetapi juga kesabaran, keikhlasan, serta kesadaran bersama untuk saling menguatkan dan berbenah, agar ke depan lebih siap, lebih waspada, dan lebih bertawakal.








