LintasButon.com – Desa Koholimombono, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, menyuguhkan potret sederhana namun memilukan setiap sore hari. Di bawah naungan cahaya matahari yang mulai condong ke barat, beberapa ibu terlihat duduk bersila di pinggir jalan, tepat di depan rumah-rumah warga, dengan piring dan wadah sederhana yang tersusun rapi di atas meja kayu yang telah usang. Di sanalah mereka menjual hasil laut yang berasal dari hasil tangkapan suami suami mereka dengan harapan sederhana: agar dagangan hari itu habis, dan esok anak-anak mereka tetap bisa makan.

Mereka bukan pedagang bermodal besar, bukan pula pelaku usaha mikro yang difasilitasi dengan bantuan alat atau modal. Mereka hanyalah para ibu rumah tangga yang berjuang dari senja ke senja, tanpa jaminan akan siapa yang datang membeli. Mereka bukan mencari kaya, hanya sekadar menyambung hidup dari hasil jualan sore yang semakin hari semakin tak menentu.
Setiap sore, pemandangan ini menjadi pemandangan rutin—dan menyayat hati—yang seolah luput dari perhatian. Sesekali kendaraan berlalu, sesekali pembeli singgah. Namun lebih sering mereka menatap kosong, berharap lebih banyak tangan-tangan ringan yang bersedia membeli, atau paling tidak pemerintah yang bersedia peduli.

Wahai Pemerintah Kabupaten Buton, liriklah nasib ibu-ibu ini. Jangan hanya datang membawa janji pembangunan dan lapangan kerja saat musim kampanye. Apa guna rencana besar jika rakyat kecil tak pernah disentuh nyata?
Jika benar pemerintah ingin membangun daerah dari pinggiran, maka lihatlah wajah-wajah lelah para ibu penjual ikan ini. Di balik senyum mereka, ada harapan yang hampir padam—bukan karena malas, tapi karena terlalu sering dikecewakan.
Kami tak meminta banyak, kami tak butuh panggung atau sorotan. Kami hanya butuh sedikit kepedulian. Kami butuh sentuhan nyata, bukan sekadar pidato. Kami butuh uluran tanganmu, wahai pemerintahku.
Sore-sore di Koholimombono akan terus ada. Namun akankah kepedulian itu benar-benar datang sebelum semuanya terlambat?








