LintasButon.com – Menjelang sore, Desa Koholimombono, Kecamatan Wabula, tampak tenang. Matahari perlahan turun, mewarnai langit dengan cahaya keemasan yang kerap membuat senja di desa ini terlihat begitu menenangkan. Dari kejauhan, suasana itu seolah tak menyisakan persoalan. Namun jika melangkah sedikit lebih dekat, senja justru membuka cerita lain tentang perjuangan warga yang terus berjalan dari hari ke hari.
Di beberapa sudut desa, ibu-ibu mulai menggelar dagangan mereka. Ada yang menjual ikan karang, ikan segar hasil tangkapan keluarga, sayur-mayur, hingga jajanan roti untuk anak-anak. Semua ditata sederhana di atas meja-meja kayu yang sudah lama dimakan usia. Meja-meja itu tampak lapuk, miring, dan sebagian terikat ulang dengan paku berkarat agar tetap bisa digunakan.
Meja kayu tersebut menjadi saksi bisu denyut ekonomi warga Desa Koholimombono. Di atas papan yang mulai retak itulah, harapan diletakkan setiap sore. Namun kondisi sarana yang terbatas membuat waktu menjadi lawan. Tanpa tempat berjualan yang layak dan tanpa fasilitas penyimpanan yang memadai, para penjual harus berpacu dengan matahari agar dagangan mereka habis sebelum malam datang.
Ironisnya, pemandangan ini seolah sudah menjadi hal yang biasa. Ketika senja di Kecamatan Wabula sering dipuji keindahannya, perjuangan warga kecil kerap luput dari perhatian. Ibu-ibu yang menjual ikan, sayur, dan jajanan roti bukan sekadar berdagang, tetapi berupaya menjaga dapur keluarga tetap berasap di tengah keterbatasan.

Sore hari di Desa Koholimombono bukan hanya tentang pergantian waktu, melainkan tentang pilihan hidup. Jika dagangan tidak habis, kerugian harus diterima dengan lapang dada. Namun mereka tetap bertahan, karena tidak banyak pilihan lain yang tersedia. Semangat warga tetap menyala, meski sarana penunjang ekonomi masih jauh dari kata memadai.
Di balik senja yang indah itu, seolah terselip pesan yang ingin disampaikan warga kepada pemerintah dan wahai para pemangku kepentingan: kami tidak butuh dikasihani, tetapi kami butuh perhatian. Perhatian yang nyata, berupa fasilitas berjualan yang layak, kebijakan yang berpihak, dan kehadiran pemerintah yang benar-benar dirasakan hingga ke desa.
Sore di Desa Koholimombono, Kecamatan Wabula, akhirnya menjadi sindiran yang halus namun tegas. Senja mungkin selalu datang dengan keindahannya, tetapi meja kayu yang lapuk dan dagangan yang digelar seadanya terus mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang menunggu untuk diselesaikan—bukan esok, bukan nanti, tetapi sekarang.








