LintasButon.com — Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial kembali ditunjukkan oleh warga Dusun Wapomaru, Desa Manuru, Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton. Pada Sabtu, 27 Desember 2025, sejak pukul 07.00 WITA, warga setempat secara sukarela melaksanakan kegiatan gotong royong dalam pembangunan pondasi rumah salah satu warga.
Kegiatan gotong royong tersebut turut dihadiri dan dibantu langsung oleh Bendahara Desa Manuru, Lutfi (40), yang akrab disapa Bapak Lutfi. Kehadiran aparat desa bersama warga menjadi gambaran nyata bahwa nilai kebersamaan masih terjaga kuat di tengah masyarakat, tanpa memandang jabatan atau kedudukan.

Dalam pelaksanaannya, warga bahu-membahu melakukan penggalian tanah, pengangkutan material bangunan, hingga pemasangan pondasi rumah. Suasana kekeluargaan tampak kental sepanjang kegiatan berlangsung, mencerminkan solidaritas dan persatuan antarwarga Dusun Wapomaru.
Bapak Lutfi (40) mengatakan bahwa gotong royong merupakan warisan nilai luhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya membantu meringankan beban warga, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di lingkungan desa.
“Gotong royong ini adalah wujud kepedulian dan kebersamaan warga. Semoga tradisi ini terus terjaga dan menjadi budaya yang mempererat persaudaraan di Dusun Wapomaru,” ujarnya.
Di tengah arus zaman yang semakin sibuk dengan urusan masing-masing, gotong royong di Dusun Wapomaru seolah menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari anggaran besar atau proyek bernilai miliaran rupiah. Ia justru lahir dari tangan-tangan sederhana, dari peluh yang jatuh tanpa proposal, serta dari niat tulus yang tidak menunggu instruksi. Ketika kebersamaan masih mampu menggerakkan warga untuk saling membantu, maka sesungguhnya fondasi sosial masyarakat telah berdiri lebih kokoh dibandingkan sekadar pondasi bangunan.
Gotong royong ini sekaligus menjadi sindiran halus bahwa nilai persatuan tidak cukup hanya dibicarakan di ruang rapat atau dituangkan dalam spanduk program. Di Dusun Wapomaru, persatuan hadir nyata di atas tanah, di bawah terik matahari, dan di antara cangkul serta ember adukan semen. Sebuah pesan sederhana namun bermakna: selama kepedulian masih hidup di tengah warga, desa tidak akan pernah benar-benar rapuh, sebab yang menopangnya bukan hanya beton dan batu, melainkan rasa saling memiliki.









