Butonpos.com,Manuru – Pemerintah Desa (Pemdes) Manuru bersama masyarakat menggelar kegiatan bakti sosial di situs Makam Labuke, yang terletak di Desa Manuru, Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton. Situs ini dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Sultan Labuke, Sultan ke-6 dalam sejarah Kesultanan Buton.
Kegiatan yang dimulai pada pukul 07.00 WITA, Minggu 8 Juni 2025, berlangsung penuh semangat gotong royong dan melibatkan berbagai unsur masyarakat—tokoh agama, tokoh adat, Karang Taruna, Majelis Ta’lim, ibu-ibu PKK, serta warga dari berbagai usia dan latar belakang. Selain bertujuan menjaga kebersihan dan kelestarian situs sejarah, aksi sosial ini menjadi awal dari rangkaian acara menyambut Hari Ulang Tahun Desa Manuru yang pertama, yang akan diperingati pada 20 Juni 2025.

Penjabat (PJ) Kepala Desa Manuru, Iswanto, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar bersih-bersih.
“Bakti sosial ini kami jadikan sebagai rangkaian pembuka menjelang HUT Desa Manuru. Ini bukan hanya soal kebersihan, tapi juga soal menghargai sejarah dan membangun rasa cinta terhadap desa,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemdes merencanakan kegiatan serupa pada 15 Juni 2025, dengan fokus pada area-area strategis lainnya di desa. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari persiapan menyambut peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2025.
Kontribusi ibu-ibu PKK dalam kegiatan ini juga patut diapresiasi. Mereka menyiapkan konsumsi berupa bubur hangat untuk seluruh peserta, sebagai bentuk dukungan moril dan kebersamaan. Tindakan sederhana ini memperkuat semangat gotong royong lintas generasi di desa.

Sebagai bagian dari penguatan koordinasi, Pemdes Manuru bersama sejumlah tokoh masyarakat, adat, dan agama berencana mengunjungi Desa Kanawa, yang merupakan Bonto Kumbewaha, untuk menjalin komunikasi dan konsultasi terkait pelaksanaan acara. Langkah ini diambil guna mempererat hubungan antarwilayah yang memiliki nilai historis dan budaya bersama.
Dengan mengusung semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap sejarah, Pemdes Manuru berharap kegiatan ini menjadi pijakan awal untuk membangun desa yang lebih maju secara sosial, budaya, dan spiritual.
Harapannya ke depan, semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut secara rutin, tidak hanya dalam momentum tertentu, tetapi menjadi budaya kolektif yang mempererat solidaritas warga dan menumbuhkan kepedulian terhadap warisan sejarah dan lingkungan desa.








