Lintasbuton.com – Gunung Jaya, Siotapina.
Di tengah bentang alam Desa Gunung Jaya yang sejuk dan dikelilingi perbukitan tenang, berdiri sebuah bangunan pasar yang kini lebih menyerupai monumen janji tak tuntas. Dibangun dengan harapan besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi desa, proyek pasar ini justru mangkrak, menyisakan tanda tanya dan kecemasan warga.
Pasar yang menelan anggaran negara sekitar Rp 3 miliar itu hingga kini belum juga difungsikan. Padahal, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Buton pernah secara langsung menyampaikan komitmennya untuk menyelesaikan pembangunan tersebut. Namun janji itu, hingga berita ini diturunkan, belum berbuah bukti nyata di lapangan.

“Dulu dijanjikan akan segera diselesaikan, tapi nyatanya hanya jadi bangunan kosong. Sekarang tempat itu malah sering disalahgunakan. Tidak bisa dimanfaatkan sama sekali,” ujar salah satu warga Gunung Jaya yang enggan disebut namanya.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Kecamatan Laskar Anti Korupsi Indonesia (Korcam LAKI) Siotapina, La Unti, ikut bersuara lantang. Ia mengungkapkan bahwa janji penyelesaian proyek pasar tersebut pernah diucapkan langsung oleh Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Buton saat pertemuan mereka di lobi Kantor Bupati Buton. Namun setelah beberapa bulan berlalu, tidak ada satu pun progres fisik yang menunjukkan keseriusan pemerintah.
“Pihak Dinas Perdagangan dan semua yang terkait harus bertanggung jawab. Ini bukan hanya tentang bangunan mati—ini menyangkut kepercayaan publik,” tegas La Unti.

Ia juga menyoroti fakta bahwa lokasi pembangunan pasar dulunya adalah lapangan sepak bola desa—ruang sosial masyarakat yang dihibahkan dengan harapan mendapatkan fasilitas ekonomi. “Masyarakat sudah berkorban, tapi apa yang mereka terima? Hanya bangunan terbengkalai yang mencederai hati dan logika.”
Menurut La Unti, penggunaan anggaran negara dalam jumlah besar tanpa hasil yang bisa dinikmati masyarakat adalah bentuk kegagalan dalam perencanaan dan pengawasan. “Ini mencederai semangat transparansi. Uang rakyat jangan dipermainkan dengan janji-janji kosong,” tambahnya.
Hingga berita ini dirilis, belum ada tanggapan resmi dari Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Buton mengenai kelanjutan proyek pasar Gunung Jaya.
Warga desa pun terus berharap agar janji-janji pembangunan tidak sekadar menjadi manuver retoris birokrasi. Mereka menantikan tindakan nyata, agar proyek yang sempat membangkitkan asa ini bisa kembali dihidupkan—bukan sekadar menjadi bangkai beton di tengah desa.








