Lintasbuton.com – Di antara hembusan angin lembut dan gemerisik daun kelapa yang menari, sebuah sudut sederhana di Kelurahan Wasaga, Kecamatan Pasarwajo, kini tumbuh menjadi tempat rehat jiwa yang makin diminati warga. Tak ada plang besar bertuliskan “tempat wisata”, tak ada sentuhan anggaran dari pemerintah, namun pesonanya justru datang dari alam dan hati warga yang tulus menjaga.
Setiap sore, kawasan ini hidup oleh tawa anak-anak, swafoto remaja, dan obrolan santai para pengunjung yang datang dari berbagai penjuru. Mereka duduk di atas tikar, menyeruput air kelapa muda, sambil menikmati bentangan langit yang mulai jingga. Di bawah rimbun pohon kelapa, manusia kembali belajar tenang—dan kembali merasa pulang.

Ridwan (35), warga asli Wasaga, tak banyak bicara tentang program-program besar. Ia lebih memilih menyingsingkan lengan baju dan mulai dari apa yang bisa ia lakukan.
> “Saya cuma merasa sayang kalau tempat ini dibiarkan kotor. Orang sudah banyak datang, masa kita sebagai tuan rumah diam saja?” ujarnya saat ditemui Minggu, 27 Juni 2025, pukul 14.15 WITA.
Bermodal cangkul dan niat baik, Ridwan membersihkan rerumputan liar, mengangkat kotoran ternak, dan menata jalan setapak dengan susunan batu alam. Ia sadar betul, tempat ini bukan miliknya—lahan tersebut masih milik keluarga almarhum Haji Sidhu—namun rasa memiliki terhadap kampung mendorongnya berbuat lebih dari sekadar menunggu.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Reni (25), pengunjung dari Kota Baubau, terlihat khidmat menikmati suasana.
“Saya lihat dari TikTok, ternyata adem bener. Nggak ramai kayak tempat wisata buatan. Alamnya jujur,” katanya pukul 14.30 WITA sambil memegang tempurung kelapa muda.
Ketua Karang Taruna Kelurahan Wasaga, La Jomon (24), menyambut gerakan ini dengan semangat. Ia mengajak para pemuda untuk ikut menjaga dan merawat agar tempat ini tidak sekadar viral sesaat.
> “Kalau bukan kita yang rawat, siapa lagi? Kita nggak bisa tunggu datangnya spanduk peresmian dulu baru mulai gerak,” ucapnya penuh makna pukul 14.45 WITA.
Kini, tempat ini tak hanya jadi ruang bersantai, tapi juga jadi denyut ekonomi kecil warga. Beberapa ibu-ibu mulai berjualan makanan ringan dan minuman segar. Kelapa muda jadi primadona, disusul gorengan dan kopi hitam yang diseduh pakai tungku kayu di bawah pohon. Tanpa subsidi, tanpa proposal, hanya dari kemauan.
Sayangnya, hingga kini belum ada satu pun langkah nyata dari Pemkab Buton. Mungkin karena belum ada payung proyeknya, atau mungkin karena belum cukup “menguntungkan secara seremonial”. Padahal, di sini, rakyatnya sudah bekerja lebih dulu. Mereka tak menunggu janji, mereka bergerak dengan hati.
Kalau saja pemerintah bisa melihat, bahwa membesarkan potensi bukan selalu soal anggaran besar. Terkadang, cukup dengan hadir dan memberi ruang, rakyat bisa melanjutkan sendiri sisanya.
Karena di Wasaga, yang dibutuhkan bukan janji pembangunan—tapi kehadiran yang menguatkan.
Dan di bawah naungan pohon kelapa yang terus berdiri meski tak pernah dimasukkan dalam musrenbang, warga Wasaga membuktikan: mereka bisa, bahkan tanpa “panggung”.








